Buy Now! Documentation

Tihamah Tuntut Perhatian dan Hak Setara di Yaman


Warga Tihamah kini menuntut pengakuan dan perhatian yang lebih besar dari pemerintah Yaman. Selama bertahun-tahun, mereka merasa diabaikan dalam alokasi anggaran, jabatan, dan pembangunan infrastruktur.

Sebagian besar wilayah Tihamah saat ini berada di bawah kendali Houthi, tetapi aspirasi masyarakat lokal tetap menuntut kesetaraan dalam pemerintahan nasional. Mereka menekankan pentingnya mendapatkan hak-hak ekonomi dan politik yang sama dengan wilayah lain.

Sejarah ketidakadilan terhadap Tihamah bukanlah hal baru. Beberapa pengamat menyebut bahwa ketidakadilan ini dimulai sejak era pemerintahan Imam pada 1930-an, jauh sebelum ketidakpuasan Selatan muncul pada 1990-an.

Dalam periode tersebut, masyarakat Tihamah menghadapi berbagai bentuk penindasan, termasuk pengabaian pembangunan, pemerasan ekonomi, dan pembatasan politik. Bahkan perjuangan mereka untuk keadilan sering berakhir dengan pengorbanan nyawa.

Kebanggaan warga Tihamah tercermin dalam sejarah perlawanan mereka terhadap Imam Yaman. Tribes Zranig, misalnya, berperang selama puluhan tahun melawan pasukan Imam Yahya dan Imam Ahmad, menimbulkan kerugian besar bagi pemerintah pusat.

Perlawanan ini tidak berhenti meski Imam mengerahkan semua suku untuk menundukkan Tihamah. Warga setempat tetap mempertahankan semangat perlawanan hingga revolusi Republik 1962, yang menggulingkan sistem pemerintahan Imam di Sana’a.

Tihamah menjadi salah satu wilayah pertama yang menyambut sistem republik, meski mereka menentang keras pemerintahan Imam sebelumnya. Namun sayangnya, pemerintah republik justru memperlakukan Tihamah seolah wilayah jajahan, bukan bagian dari Yaman.

Pengabaian sistematis ini terlihat dalam sejarah resmi. Banyak tokoh revolusi Tihamah dihapus dari buku sejarah, sementara beberapa pahlawan republik lain dimuliakan secara berlebihan.

Selain itu, kebijakan pemerintah juga menimbulkan ketidakadilan dalam hal pembangunan ekonomi dan sosial. Pendidikan, infrastruktur, dan layanan publik di Tihamah seringkali kalah dibanding wilayah lain.

Eksploitasi sumber daya alam Tihamah juga menjadi isu utama. Pemerintah dituding melakukan pencaplokan, penjarahan, dan pengalihan aset ekonomi tanpa memberikan manfaat yang sepadan bagi masyarakat lokal.

Meski menghadapi ketidakadilan panjang, masyarakat Tihamah tetap menegaskan kesetiaan mereka pada Yaman. Mereka menolak mempromosikan ide pemisahan, meski memiliki dasar historis untuk itu.

Saat ini, tuntutan mereka lebih fokus pada kesetaraan dalam kerangka negara Yaman yang besar. Mereka ingin hak-hak ekonomi, politik, dan sosial diperoleh secara adil melalui mekanisme federal dan otonomi lokal.

Warga Tihamah juga menekankan perlunya pengakuan resmi terhadap sejarah mereka. Revolusi dan perlawanan masyarakat Tihamah terhadap sistem lama seharusnya dicatat dan dihormati dalam kurikulum pendidikan nasional.

Mereka mengingatkan bahwa toleransi terhadap pengabaian sebelumnya tidak berarti menerima ketidakadilan secara berkelanjutan. Hak-hak Tihamah harus ditegakkan dalam setiap kebijakan pembangunan nasional.

Isu jabatan publik juga menjadi sorotan. Warga Tihamah menuntut keterwakilan yang setara dalam posisi pemerintah pusat dan provinsi agar suara mereka terdengar dalam pengambilan keputusan.

Selain itu, penyediaan layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi dianggap sebagai indikator utama perhatian pemerintah. Ketimpangan dalam hal ini memperburuk ketidakpuasan masyarakat.

Perjuangan Tihamah menekankan bahwa hak-hak mereka bukanlah tuntutan sektarian, melainkan bagian dari prinsip kesetaraan warga negara dalam Yaman. Mereka menolak setiap bentuk marginalisasi yang masih berlangsung.

Beberapa tokoh Tihamah menyatakan bahwa otonomi lokal dan sistem federal sesuai dengan inisiatif GCC dan hasil dialog nasional bisa menjadi solusi terbaik. Hal ini memungkinkan Tihamah mengatur urusan internal tanpa memutus hubungan dengan Yaman secara keseluruhan.

Masyarakat setempat menegaskan bahwa mereka akan terus menuntut haknya meski menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang selama ini menguasai sumber daya. Strategi mereka adalah tetap dalam Yaman besar sambil menegakkan keadilan.

Dengan konsistensi perjuangan ini, diharapkan Tihamah akhirnya mendapatkan pengakuan yang layak, baik dalam sejarah, pembangunan, maupun representasi politik. Aspirasi mereka kini menjadi simbol dari hak-hak yang tertunda lebih dari satu abad.

Jika tuntutan ini terpenuhi, Tihamah bisa menjadi contoh wilayah yang berhasil mendapatkan hak-haknya tanpa harus memutuskan kesatuan Yaman, menunjukkan bahwa keadilan dan persatuan dapat berjalan beriringan.

Tihamah: Kejayaan Masa Ottoman

Tihamah, wilayah pesisir barat Yaman, dulunya pernah mencapai masa keemasan pada era Ottoman. Pada abad ke-16 hingga awal abad ke-20, Ottoman menguasai sebagian besar pesisir Laut Merah, termasuk Tihamah, dan menjadikannya pusat perdagangan strategis yang menghubungkan Arab, Afrika Timur, dan Asia. Pelabuhan-pelabuhan Tihamah ramai dengan aktivitas ekspor-impor, termasuk rempah-rempah, kopi, dan barang-barang tekstil.

Kehadiran Ottoman membawa stabilitas politik dan keamanan yang relatif bagi Tihamah. Infrastruktur perdagangan, administrasi pemerintahan, dan jalur komunikasi diperbaiki sehingga wilayah ini mampu berkembang secara ekonomi. Penduduk lokal menikmati kesejahteraan yang lebih tinggi dibanding periode sebelum pendudukan Ottoman, karena perdagangan yang lancar menciptakan lapangan kerja dan pendapatan.

Selain aspek ekonomi, era Ottoman juga meninggalkan warisan budaya dan sosial di Tihamah. Kota-kota pesisir seperti Al Hudaydah dan Al Mokha menjadi pusat intelektual dan kebudayaan, dengan madrasah, pasar, dan kegiatan keagamaan yang terorganisir. Keberadaan administrasi Ottoman memperkuat tata kelola wilayah dan memperkenalkan sistem hukum serta perpajakan yang lebih terstruktur.

Namun, masa keemasan Tihamah ini mulai memudar seiring melemahnya pengaruh Ottoman di awal abad ke-20. Perebutan wilayah oleh kekuatan lokal, konflik internal, dan keterbatasan investasi dalam pembangunan membuat Tihamah mengalami stagnasi ekonomi. Banyak keluarga dan pedagang akhirnya meninggalkan wilayah pesisir, sementara sebagian kota kehilangan peran strategisnya di perdagangan internasional.

Meskipun begitu, jejak kejayaan Ottoman tetap membentuk identitas Tihamah hingga kini. Penduduk lokal masih menekankan sejarah tersebut sebagai bukti kapasitas wilayahnya untuk berkembang jika diberikan perhatian dan keadilan dalam pemerintahan Yaman modern. Masa keemasan ini juga menjadi inspirasi bagi tuntutan Tihamah atas hak-hak ekonomi dan politik yang setara.

0 Comments